Gue masih ingat banget momen pertama kali ngobrol sama anak baru di kosan. Dia asal Sumatera, baru seminggu pindah ke Jogja buat kuliah. Dengan muka serius dia bilang, "Katanya di sini semua murah ya? Jadi gue bisa jalan-jalan tiap minggu dong?"
Gue cuma bisa senyum. Bukan karena dia salah total, tapi karena dia kena mitos yang sama kayak gue lima tahun lalu. Mitos yang bikin kita, para perantau, sering salah hitung dan akhirnya kecewa sendiri.
Baca juga: Jalan-Jalan Hemat Ala Mahasiswa Perantau: Modal Nekat, Waktu Mingguan
Nah, karena udah cukup lama jadi orang rantau yang hobinya keliling, gue mau bongkar beberapa mitos populer soal jalan-jalan di Indonesia yang ternyata nggak selalu bener. Khususnya buat kamu yang statusnya masih mahasiswa perantau, yang dompetnya tipis tapi jiwa wanderingnya tebal.
"Di Jogja Semua Murah, Tinggal Jalan Aja"
Ini mitos paling awet. Iya, Jogja memang lebih murah dari Jakarta atau Bali. Tapi bukan berarti gratis.
Coba deh hitung ulang. Sewa motor harian sekarang rata-rata Rp60-70 ribu. Bensin buat keliling Malioboro sampai Prambanan bisa Rp20 ribu. Belum parkir, belum makan, belum tiket masuk kalau mau ke candi atau pantai. Sekali jalan-jalan santai aja bisa Rp150 ribu lebih. Kalikan empat minggu, udah Rp600 ribu. Buat mahasiswa yang uang bulanannya pas-pasan, itu bukan angka kecil.
Gue pernah di fase ini: merasa Jogja itu surga karena semua "katanya murah", terus tiap akhir bulan makan mie instan. Nggak sehat, nggak worth it.
Yang bener adalah: Jogja murah kalau kamu tahu caranya. Naik Trans Jogja cuma Rp3.600 sekali jalan. Ke Pantai Timang bisa patungan sama teman biar ongkosnya kebagi. Kopi di warung pinggir jalan rasanya nggak kalah sama kafe hits, harganya seperlima. Jadi bukan murah karena tempatnya, tapi murah karena strateginya.
"Murah itu bukan sifat tempat. Murah itu hasil dari cara kamu menikmatinya."
"Naik Gunung Itu Harus Punya Gear Mahal"
Mitos kedua yang bikin banyak perantau mundur duluan sebelum mencoba. Katanya mau naik gunung harus punya jaket waterproof, carrier 60 liter, sepatu gunung merek luar, dan sleeping bag anti air. Total bisa jutaan.
Padahal? Gue naik Papandayan pertama kali pakai jaket pinjeman senior, tas ransel kuliahan, dan sepatu lari. Ya, agak kedinginan. Ya, agak licin. Tapi sampai puncak, dan pulang dengan cerita yang nggak bisa dibeli pakai gear mahal.
Yang penting itu bukan merek. Yang penting itu:
- Cek cuaca dan jalur sebelum berangkat. Ini gratis dan paling menentukan.
- Bawa lapisan pakaian yang bisa dipakai berlapis, bukan satu jaket super mahal.
- Sepatu yang nyaman dan solnya masih bagus. Nggak harus sepatu gunung.
- Fisik yang siap. Rajin jalan kaki seminggu sebelum naik udah cukup buat gunung pemula.
- Cari teman atau komunitas yang udah pengalaman. Ilmu mereka lebih berharga dari gear.
Gear mahal itu enak, tapi bukan syarat. Banyak pendaki senior justru mulai dari peralatan seadanya. Jangan biarkan mitos ini menahan langkahmu.
"Wisata di Indonesia Itu Mahal, Mending Nabung ke Luar Negeri"
Ini yang paling sering gue dengar dari teman-teman kampus. "Nabung setahun buat ke Jepang ah, daripada ke Raja Ampat yang katanya juga mahal."
Oke, Raja Ampat memang mahal. Tapi Indonesia itu bukan cuma Raja Ampat dan Bali. Ada ratusan tempat yang bisa kamu datangi dengan budget mahasiswa perantau.
Contoh nyata dari gue: tiga hari di Karimunjawa, termasuk kapal, penginapan, dan makan, bisa di bawah Rp800 ribu kalau berangkat rombongan dan nginep di homestay warga. Bandingkan dengan tiket pesawat ke luar negeri yang aja belum tentu segitu.
Masalahnya, kita sering cuma lihat destinasi yang viral di Instagram, yang notabene harganya udah disesuaikan buat turis. Padahal di sekitar kita banyak tempat yang belum tersentuh arus utama. Air terjun di pelosok, pantai yang belum ada tiket masuknya, desa wisata yang masih murah meriah.
Dan satu hal yang sering dilupakan: jalan-jalan di Indonesia itu nggak butuh visa, nggak butuh kurs, nggak butuh adaptasi bahasa. Itu semua penghematan yang nggak kelihatan tapi nyata.
Jadi, gimana cara menyaring mitos-mitos ini?
Gampang kok. Sebelum percaya kata orang, tanya tiga hal: kapan terakhir dia ke sana, berapa budgetnya, dan gaya jalan-jalannya kayak apa. Jawaban orang yang terakhir ke sana lima tahun lalu beda banget sama yang baru minggu kemarin. Jawaban orang yang nginep di hotel bintang empat juga beda sama yang nginep di homestay.
Gue sendiri sekarang punya prinsip sederhana: lebih baik salah karena sudah coba, daripada salah karena cuma dengar. Mitos itu nggak selalu bohong, tapi sering nggak relevan sama kondisi kita.
Yang Perlu Diingat Sebagai Perantau
Jadi mahasiswa perantau itu posisi yang unik. Kita punya kebebasan yang nggak dimiliki anak yang masih tinggal sama orang tua, tapi juga punya keterbatasan uang yang nyata. Di tengah dua hal itu, mitos-mitos tadi gampang banget bikin kita salah arah.
Ada yang jadi takut jalan karena mikir semua mahal. Ada juga yang nekat jalan terus tapi akhirnya nggak makan seminggu. Dua-duanya sama-sama nggak sehat.
Yang gue pelajari setelah bertahun-tahun: jalan-jalan itu bukan soal seberapa jauh atau seberapa mahal, tapi seberapa sadar kamu sama pilihanmu. Kamu bisa keliling satu kota naik sepeda dan pulang dengan cerita lebih banyak daripada orang yang terbang ke Bali tapi cuma foto di villa.
Jadi lain kali ada yang bilang "di sini semua murah" atau "naik gunung harus punya gear mahal", jangan langsung percaya. Cek sendiri, rasakan sendiri, dan bentuk opinimu sendiri. Karena pengalaman terbaik biasanya datang dari tempat yang nggak pernah disebut di mitos mana pun.