Gue mulai sadar ada yang aneh waktu suatu kali gue ikut trip bareng teman-teman kantoran. Itinerary-nya padat banget: jam 5 pagi bangun, jam 7 sudah di lokasi, lanjut ke spot berikutnya tiap dua jam, dan baru balik ke penginapan jam 9 malam. Dua hari pertama gue masih kuat. Hari ketiga, badan gue drop dan gue malah tidur di kursi lobi hotel sementara yang lain lanjut foto-foto. Malamnya gue buka laptop, ada tiga email klien yang belum gue balas. Di situ gue sadar: cara traveling gue sebagai freelancer nggak bisa disamakan dengan cara traveling orang kantoran.
Masalahnya, banyak freelancer justru meniru pola itu. Kita lihat feed orang lain, kita contek itinerary-nya, lalu kita paksakan jalan dengan energi yang sama padahal kondisi kerja kita beda total. Hasilnya? Liburan terasa melelahkan, kerjaan jadi berantakan, dan kita pulang dengan rasa bersalah. Nah, ini beberapa kesalahan umum yang sering gue lihat — dan pernah gue lakukan sendiri — plus cara menghindarinya.
Memaksakan Itinerary Padat yang Nggak Sesuai Ritme Kerja
Kesalahan paling sering: bikin jadwal per jam seperti tur grup. Bangun jam 5, jalan jam 6, foto jam 7, pindah lokasi jam 9. Kedengarannya produktif, tapi buat freelancer ini jebakan. Kita nggak punya jam kerja tetap, jadi tubuh kita sering sudah terbiasa begadang atau bangun siang. Kalau dipaksa ikut jadwal turis kantoran, dua hari pertama masih bisa, hari ketiga biasanya tumbang.
Yang lebih parah, jadwal padat bikin kita nggak punya waktu buat check-in ke klien. Padahal satu email singkat bisa menyelamatkan proyek. Gue pernah hampir kehilangan satu klien gara-gara sinyal jelek di gunung dan gue baru balas pesannya dua hari kemudian. Sejak itu gue selalu sisipkan slot "kerja ringan" di pagi hari sebelum jalan-jalan.
Baca juga: Tiap Jumat Malam: Cara Anak Kantoran Kabur Sejenak Tanpa Bokek
Cara menghindarinya gampang: batasi maksimal dua destinasi utama per hari. Sisakan satu blok waktu kosong, entah buat kerja, istirahat, atau sekadar nyasar di jalan. Jangan takut kelihatan "nggak maksimal" — perjalanan yang santai justru lebih berkesan.
Mengabaikan Buffer Waktu dan Biaya Tak Terduga
Ini klasik. Kita hitung budget pas-pasan, lalu kaget waktu ada biaya tambahan. Di Indonesia, biaya tak terduga itu hampir pasti ada: tiket masuk yang naik, parkir, ojek yang lebih mahal dari perkiraan, atau warung yang ternyata pricey karena lokasinya di area wisata. Belum lagi kalau ada ban bocor atau hujan deras yang bikin kita harus nginep tambahan satu malam.
Gue selalu sarankan buffer minimal 25 persen dari total budget. Kalau rencananya habis 3 juta, siapkan 4 juta. Lebih baik sisa daripada kepepet. Untuk waktu, kasih jeda minimal satu jam antar destinasi. Perjalanan antar kota di Indonesia sering meleset dari estimasi Google Maps, apalagi kalau lewat jalur pegunungan atau kena macet di jalur wisata akhir pekan.
Perjalanan yang baik bukan yang paling padat, tapi yang paling siap menghadapi hal tak terduga.
Menganggap "Kerja di Mana Saja" Berarti Bisa Kerja di Mana Saja
Ini kesalahan yang sering nggak disadari freelancer. Kita pikir karena bisa kerja remote, kita bisa kerja dari mana pun. Kenyataannya, nggak semua tempat ramah buat kerja. Kafe di daerah wisata sering ramai dan berisik, sinyal seluler bisa lemah, dan colokan listrik jadi barang langka. Gue pernah ngejar deadline di kafe pinggir pantai, dan hasilnya? Gue butuh dua jam buat nulis satu paragraf karena terus terganggu suara musik dan pengunjung.
Solusinya: riset dulu soal koneksi dan tempat kerja sebelum berangkat. Cek review soal wifi, cari coworking space lokal kalau perlu, dan selalu bawa power bank besar. Kalau destinasi yang kamu tuju memang jauh dari peradaban, jangan janjiin klien deadline ketat di tanggal itu. Susun jadwal proyek supaya hari-hari di lokasi terpencil bebas dari tugas berat.
Jangan lupa: komunikasi ke klien itu bagian dari perjalanan
Kasih tahu klien kalau kamu akan traveling dan mungkin agak lambat merespons. Kebanyakan klien menghargai transparansi. Yang bikin masalah bukan traveling-nya, tapi hilang tanpa kabar.
Menjejalkan Terlalu Banyak Destinasi dalam Satu Trip
Kita semua pernah kena FOMO ini. Libur lima hari, pengennya ke tiga kota sekaligus. Hasilnya, separuh waktu habis di jalan, dan yang kita ingat cuma perjalanan panjang plus rasa capek. Indonesia itu luas, dan jarak antar destinasi sering lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Gue belajar dari pengalaman: lebih baik satu kota tapi dalam. Tinggal empat hari di satu daerah, jalan pelan, ngobrol sama warga lokal, dan nemu tempat makan yang nggak ada di daftar turis. Pengalaman kayak gini yang bikin perjalanan berkesan, bukan jumlah checklist tempat yang berhasil dicoret.
Freelancer punya keuntungan besar di sini: kita bisa jalan di hari kerja saat tempat wisata sepi. Manfaatkan itu. Jangan buang keuntungan fleksibilitas dengan memaksakan jadwal yang justru bikin stres.
Melupakan Asuransi dan Kesiapan Darurat
Ini yang paling sering diabaikan karena terasa ribet dan buang uang. Padahal, buat freelancer, sakit atau kecelakaan di jalan bisa berarti proyek batal dan pemasukan hilang. Asuransi perjalanan domestik sekarang murah dan gampang dibeli online. Simpan juga nomor darurat lokal, alamat klinik terdekat, dan salinan dokumen penting di cloud.
Gue pernah kena food poisoning di sebuah kota kecil dan harus cari klinik jam 11 malam. Untung ada warga lokal yang bantu. Sejak itu gue selalu simpan nomor darurat dan nggak lagi asal jajan di tempat yang kebersihannya meragukan.
Intinya, traveling sebagai freelancer itu soal menemukan ritme sendiri. Nggak perlu ikut pola orang lain, nggak perlu memaksakan jadwal padat, dan nggak perlu malu jalan pelan. Justru di situ letak nikmatnya — kamu jalan dengan tempo yang kamu tentukan sendiri, tanpa harus kehilangan momen berharga cuma karena buru-buru ke destinasi berikutnya.